Kakek Dhuafa di Aceh Singkil Tinggal di Rumah Gubug Memprihatinkan

 


ACEH SINGKIL - Latib (66), Seorang kakek Dhuafa (Miskin tak berdaya) di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, hidup sebatang kara di rumah gubug dengan kondisi memprihatinkan.

Kakek  Latib, merupakan warga Desa Perangusan, di Kecamatan Gunung Meriah salah satu dhuafa yang luput dari perhatian pemerintah dimasa pemerintahan Dulmusrid. Status duda yang ia sandang lantaran sudah lama berpisah dengan istrinya. Dia juga belum memiliki anak sepanjang hayatnya.

Pantauan wartawan Sabtu (18/6) pagi, rumah gubug yang ditempatinya selama satu dekade  atau 10 tahun terakhir, kini telah lapuk dimakan usia dan rwyot. Sekilas terlihat masih kokoh, namun kondisi sebenarnya sangat memprihatinkan bila memasuki ruang dalam.

Rumah berukuran 2x4 meter ini beratap rumbia, berlantai tanah dan berdinding papan kayu yang sudah mulai lapuk. Sangat memprihatinkan sekali kaum dhuafa ini.

Melihat kedalam rumah. Kondisi rumah diskat menjadi dua bagian. Bagian depan digunakan untuk tempat tidur. Tempat tidurnyapun hanya beralaskan papan yang dilapisi tikar tipis. "Sering masuk angin, tapi mau bagaimana lagi," ungkapnya sambil senyum-senyum.

Sementara pada bagian belakang, digunakannya sebagai tempat memasak dan keperluan lain. Untuk lampu penerangan rumah, mengandalkan bantuan dari tetangganya.

Dirinya hanya bisa pasrah melihat kondisi rumah yang ditempatinya dalam keadaan lapuk dan mengkhawatiran.  

Jangankan untuk memperbaiki rumah secara total, untuk makan sehari hari saja, dirinya mengharapkan pemberian dari orang lain yang merasa iba kepadanya. 

"Untuk mandi, mencuci dan BAB menumpang kerumah tetangga dekatnya. Untuk makan sehari-hari ya dari tetangga ataupun sanak familinya," kata Kakek dengan suara lirihnya ketika dijumpai kontributor KBA.ONE, Kamis 16 Juni 2022.

Bahkan kata Dia, rumah yang ditempatinya tersebut berada ditanah milik tetangganya, tokoh masyarakat setempat H Bahaudin. "Atas kebaikan beliaulah saya bisa disini," ungkapnya.

Kendati demikian, Ia mengaku, sebenarnya memiliki tanah berukuran sekira 6 meter peninggalan orang tuanya dulu. Letaknya tak jauh dari rumahnya saat ini, agak kebelakang dari jalan. Lantaran bagian depan sudah ditempati oleh famili lain.

Impian Kakek Latib, tidaklah banyak. Ia hanya ingin suatu saat dapat memiliki rumah yang layak huni. "Semoga Allah Swt meridohinya,"ucapnya.

"Hingga saat ini, belum ada dari instansi terkait turun melihat kondisi rumah Kakek Latif," Kata Sahnul, salah satu aparatur desa setempat, yang sedang menemaninya saat itu.

Melihat kondisi rumah kakek Latif yang cukup memprihatinkan, ungkapnya, pemerintah desa sebenarnya sudah mencoba mengajukan bantuan kepada dinas terkait.

"Sudah pernah diusulkan oleh Kepala desa yang lama kepada dinas terkait, sekitar tahun 2018-2019 namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda terealisasi," kata Kepala Desa Perangusan, Darma Arifin, menambahkan.

Sementara jika dibebankan menggunakan dana desa, kata Darma, anggaran tidak mencukupi, terlebih saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. "Sejauh ini kami juga sedang mencoba untuk mengajukan kembali permohonan bantuan," ungkapnya.

Darma berharap, siapapun baik dinas terkait, para pejabat ataupun anggota dewan, agar dapat membantu Kakek Latib mewujudkan impiannya, memiliki rumah yang layak huni.

Keterangan: Seorang kakek Dhuafa di Aceh Singkil hidup sebatang kata dengan kondisi rumah memprihatinkan.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak